SUDAH MAU DIRAYAKAN KEMERDEKAAN RI KE-73 TAHUN
Desa Balo Dano Kab. Nias Belum Merasakan Makna Kemerdekaan
Penulis: Yul/Arsita K Gu | Minggu, 04 Juni 2017 | 04:04 WIB Dibaca: 128 kali

Kondisi Desa Balodano yang ditinggal perhatian oleh pemerintah tentang berbagai sektor pembangunan

Nias, ungkap riau. com- Kendati kemerdekan Negara Republik Indonesia (RI) sudah mau dirayakan untuk yang ke- 73 tahun pada tahun 2017 ini. Namun beberapa daerah Desa yang ada di Pulau Nias di Kec. Ma"u masih belum merasakan makna dari kemerdekaan itu.

Pasalnya, salah satu Desa yang ada di tengah-tengah Pulau Nias di Kecamatan Ma"u Kabupaten Nias Barat yang berbatas dengan 3 Kabupaten yakni Kab. Nias Induk dan Kab. Nias Selatan dengan jumlah penduduk mencapai 900 s/d 1000 orang atau sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) lebih dan tidak merasakan makna kebebasan dari penjajahan itu.

Ketertinggalan Desa tertua ini dari berbagai sektor pembangunan, sudah memprihatinkan bahkan menjadi buah bibir masyarakat tempatan dan terlebih pengamat dari pihak luar.

Desa Balo Dano yang ada di Kec. Ma"u ini sangat terlihat seperti hutan blukar yang warganya selaku penghuni Desa itu tidak dihargai hak-haknya oleh pemerintah. Padahal kewajiban pajak hasil bumi masyarakat tetap dilakukan pengutipan oleh Pemda Nias barat.

Kondisi Desa ini sangat terbelenggu dengan krisis berbagai sektor pembangun. Bahkan sampai sekarang arus listrik dan pembangun sarana dan prasarana Jalan misalnya seperti pembangunan simenisasi jalan dan terlebih pembangunan aspal yang masih belum menyentu Desa tersebut. 

Diman Pemda Nisbar dan Anggota Dewan daerah DAPIL itu. Apakah tidak melekat dengan Namanya selaku perwakilan rakyat. Apa kerja Esekutif dan Legislatifnya?.

Pertanyaan ini dialamatkan kepada janji-janji politik Bupati dan janji-janji Politik Anggota DPRD yang berasal Dapil Desa di Kec. Ma"u itu.

Kesusahan masyarakat Desa Balo Dano itu sungguh tidak dirasakan oleh Pemerintah Nisbar dan Anggota DPRD yang memiliki pokok-pokok pemikiran dalam mengusulkan pembangunan didaerah Desa itu. Jika ke Desa ini harus menempuh jalan kaki sejauh 3KM dari ujung aspal Desa Sifaoroasi Kec. Huruna Nisel. Selanjutnya kondisi Desa itu pada malam harinya ibarat kampung mati karena tidak teraliri arus listrik. masyarakatnya hasa sebagian kecil menggunakan Genset dan sebagian besar masih menggunakan obor atau lampu yang terbuat dari kaleng susu sebagai penerang dalam rumahnya. 

Tradisi menggunakan obor atau lampu yang terbuat dari kaleng susu ini hanya semasa RI belum merdeka atau jaman baholak kata orang medan. Begitulah Kondisi Desa Balo Dano ini sampai sekarang.

Mengenai kegiatan penduduknya, mayoritas adalah Tani. Adapun hasil komoditinya adalah karet, cokelat dan tuak suling atau Tuo Nifaro. Untuk memasarkanya atau menjual hasil bumi itu di pasar atau pekan dengan bahasa Nias "Harimbale" harus dengan memundak atau dipikul. Begitu juga  dengan belanja bahan sembilan pokok juga dipikul hingga seberat 30-50 Kg dengan jarak 3KM karena tidak dilewati oleh kendaraan. 

Mirisnya lagi, anak sekolah setiap harinya harus berangkat jam 06.00 Wib dari rumah. Mungkin saudara bisa bayangkan bagaimana keadaan anak-anak yang berangkat pagi-pagi buta untuk sekolah tanpa sarapan. Bahkan di perjalanan menuju sekolah banyak tantangan yang harus dilalui setiap harinya seperti ular, sungai Monda dan embu-embun yang selalu membasahi seragam sekolah anak-anak generasi bangsa itu.

Sungguh memprihatinkan konsisi anak-anak dengan berjalan kaki untuk meraih cita-cita. Apakah penderitaan itu akan berakhir. Jawabannya tidak! jika Pemerintahnya tidak serius membawa perubahan pembangunan di daerah itu

Terkait badan jalan yang sudah terbentuk Sesuai di Foto Ini bukan dibangun pemerintah melainkan  dibangun melalui swadaya masyarakat. Bahkan berbagai aktifitas pun di lakukan dengan tenaga manual masyarakat. 

Kami masyarakat Desa Balo Dano meminta perhatian Pak Presiden Joko Widodo, Pak Mentri, Pak Gubernur Sumut, Pak Bupati Nisbar, DPRD atau siapapun yang membaca berita ini. Kami ingin lepas dari jajahan ini. Kami ingin keadilan dan kesejahteraan mengalir di Desa kami seperti Desa-desa yang lainnya. 

Marthin Hia mengakui dalam FBnya, Desa Balo Dano itu merupakan Desa terisolir. Semestinya Anggota DPRD Nias yang berasal dari daerah Pemilihan itu  lebih kompiten memperjuangkan pembangunan Desa itu.

"Anggota DPRD Daerah Pemilihan tersebut harus bertanggung jawab dalam hal ini dan Pemda Nias Juga. Mereka ada untuk membela kepentingan masyarakatnya, bukan berdiam diri dan mengurus kepentingan peribadi," katanya.

Saya turut prihatin melihat kondisi ini, namun sayangnya tidak bisa karena saya putra daerah asli Nias Barat, Kec. Lahomi, Desa Lologundre, tinggal di kota Medan. Jadi sedikit bisa memahami seperti apa penderitaan masyarakat di Nias secara umum. Baik secara ekonomi, sumberdaya manusia (SDM), dan kesejahteraan sangat terbelakang dibanding daerah lain. 

"Pemerintah dan Anggota DPRD hadir ketika saat ada maunya atau dekat Pilleg dan Pilkada," aku nya kesal. (Yul/Arsita K. Gulo) 

*
[ Kembali ]
Berita Lainnya
TINJAU ZONA MERAH GUNUNG SINABUNG
Kapoldasu Minta Solusi Pemerintah Bagi masyarakat korban Erupsi Gunung Sinabung
1 Diantara 5 Parpol Baru Lolos Seleksi Badan Hukum
Kemenkumham Putuskan PSI Lolos Seleksi Badan Hukum
PERCEPT PEMBAHASAN RUU ANTITERORISME
Presiden RI Perintahkan BNPT Giat Program Pencegahan Penyebaran Paham Terorisme di Seluruh Pelosok Tanah Air
MEMBANGUN PELALAWAN TIDAK SEBATAS KARYA KATA
HM.Harris Tanda Tangani MoU Gerakan Menuju 100 Smart City di Makasar
DESA WISATA KREATIF RAIH PENGHARGAAN
Drs.H. Zardewan MM Terima Penghargaan  Desa Wisata Awards 2017
Home | Politik | Ekonomi | Olahraga | Pendidikan | Budaya | Hukum | Hiburan | Nasional | Internasional | Galeri Foto | Tokoh | Opini | Pekanbaru | Pelalawan | Dumai | Bengkalis | Siak | Kampar | Inhu | inhil | Kuansing | Rohul | Rohil | Meranti | Surat Pembaca | Redaksi