Salah seseorang pemangku adat Kampar bergelar Datuk Panglima Persukuan Gantiang yang bernama ( Ashari) umur 52 tahun bertempat tinggal di Dusun Taratak Desa Pasir Sialang Kecamatan Bangkinang Seberang sudah menggeluti usaha batu akik selama 40 tahun.
Ia memasarkan batu akik yang berasal dari Sungai Kampar-Riau. Batu akik tersebut bermacam - macam warnanya ada berwarna hitam, putih, biru, merah dan warna abu- abu.
Ashari yang bergelar Datuk Gantiang ini, Sabtu (22/11), kepada urc, mengatakan, siap memasarkan pada semua orang yang ingin dan berminat pada batu akik. Batu akik yang ia pasarkan berasal dari Sungai Kampar, realitanya sudah banyak pembelinya, ujar Ashari diPasar Air Tiris.
Rata - rata perhari tiga buah batu akik terjual. Ashari sangat menekuni usahanya, karena berkat usahanya itu dapat membantu kebutuhan hidup keluarganya.
“Harga batu akik yang saya dijual tidak terlalu mahal dan harganya bervariasi satu buah batu akik bernilai Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu, kadang- kadang perhari terjual 3 buah batu akik”.
Bila dihitung dalam kurun 40 tahun ini cukup banyak penghasilannya.
| Baca juga: | |
| Pj Bupati Kampar Tinjau dan Beri Bantuan Hingga Malam | |
| Tim Agrowisata Bungaraya Tancap Gas | |
| Azhar Terpilih Secara Aklamasi | |
Ashari siap bertarung memperagakan batu akik yang berasal dari Sungai Kampar baik di seluruh Kabupaten/kota di Provinsi Riau bahkan nasional. Mengapa ia sampaikkan demikian, karena contohnya batu kerikil saja kualitasnya sangat bagus. Selain itu juga, Sungai Kampar adalah aset Pemerintah daerah yang notabennya terdapat harta - harta cukup berharga seperti batu kerikil, batu mangga, sirtu dan batuk akik yang telah kami pasarkan, itupun tidak ada kalahnya dengan harta karun Sungai Kampar di Kabupaten dan kota Provinsi Riau lainnya. Katanya
Lebih lanjut Ashari mengatakan, untuk menggali harta Sungai Kampar baik timah, emas dan semua yang terdapat didalamnya dibutuhkan tenaga - tenaga ahli dari pihak luar, karena tenaga yang ada dari Kampar sendiri belum ada, untuk sementara Aset Sungai Kampar masih banyak dan melimpah ruah, sehingga masyarakat saat ini hanya mampu mengelolah batu kerikil dan batu mangga saja.
Ashari berharap kedepan supaya masyarakat Kampar menjaga dan haruslah hati-hati dalam mengelolah aset Sungai Kampar dan jangan sampai merusak lingkungannya, namun sebaliknya jika kita amburadul mengelolahnya, misalnya mengambil batu kerikil dan batu batuk akik dan batu - batu yang lainnya dengan cara sembarangan tentu akan mengakibatkan rusaknya lingkungan Sungai Kampar yang pada gilirannya nanti masyrakat yang akan menjadi korbannya.
“bila ada kedapatan baik masyarakat atau perusahaan merusak kelestarian lingkungan di Sungai Kampar, diminta ditindak tegas oleh pihak yang berwenang sesuai perundang-undangan yang berlaku”. Ashari mengakhiri. (andi usman)
| Yusuf Nache Sidak Ketersediaan Kebutuhan Bahan Pokok di Pasar Telukdalam Jelang Hari Raya Idul Fitri | |
| Sokhiatulo Laia Ikuti High Level Meeting TPID SE Provinsi Sumut | |
| Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan Salurkan Bantuan Korban Kebakaran Rumah | |
| Sihol Aritonang: Hasil Riset LPEM Periode 2016-2022, April Grup Berkontribusi Rp 484,3 T Untuk PDB Nasional | |
| Jokowi: Saya Yakin Ekonomi Kita Segera Pulih | |
| Polres Pelalawan Amankan Dua Orang Terduga Pelaku Karhutla | |
| Hj.Darnawati Kawal Anggaran Rp 15 Miliar Untuk Pembangunan Jalan Sanglar Dan Kota Baru | |
| BFI Finance Cabang Air Molek Lempar Tanggung Jawab Ke Kantor Pekanbaru | |
| Mantan Kadiskominfo Inhil Keberatan Pemberitaan Tanpa Memenuhi KEJ | |
| Kondisi Jalan Desa Rantau Bawah Tetap Memprihatinkan | |















