Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Menjadi Keynote Speaker
Drs.H.Syamsuar MSi: Tatakelola Gambut Riau Perlu Dibenahi

Ka. Biro Siak
Minggu, 11 Nop 2018 | dilihat: 911 kali
Foto: Doc. Foto Gubernur Riau terpilih, Drs H Syamsuar MSi di depan peserta Seminar Nasional Gambut (SNG) 2018, yang ditaja oleh Forum Mahasiswa Pascasarjana Riau (Fompasri) Bogor, Sabtu (10/11/2018) di Gedung Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) Prodi Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

SIAK. ungkapriau.com- Dihadapan peserta Seminar Nasional Gambut (SNG) tahun 2018. Gubernur terpilih, H. Samsuar M.Si mengakui Provinsi Riau kepada mahasiswa, merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan gambut terluas di Indonesia.

 

Dalam keterangan Gubernur terpilih ini menuturkan bahwa lahan gambut dengan sebutan sebagai jenis tanah yang terbentuk dari beragam akumulasi sisa-sisa tanaman yang setengah membusuk, sehingga kandungan bahan-bahan organiknya masih tinggi dengan istilah asing “peat land”.

 

Penyebutan ini kata Syamsuar didasarkan atas awal mula terbentuknya, yakni di lahan-lahan basah. “Sejauh ini, persoalan tanah gambut masih tetap diperdebatkan, terutama terkait bencana asap yang diduga berasal dari tanah gambut yang sangat mudah terbakar. Maka ddngan itu sangat  pentingnya tatakelola gambut yang baik dan benar, dengan harapannya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat tempatan.

 

“Dampak positif terhadap ekonomi masyarakat yang daya maksud ditandai dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan hidupnya,” ungkap Drs H.Syamsuar MSi di depan peserta Seminar Nasional Gambut yang ditaja oleh Forum Mahasiswa Pascasarjana Riau (Fompasri) Bogor, bertempat di Gedung Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) Prodi Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Sabtu (10/11/2018).

 

Dalam sambutannya Dewan Pembina Fompasri Bogor, Dr Roberdi MSi mengapresiasi kinerja panitia pelaksana, mulai dari awal gagasan penyelenggaraan SNG 2018 sampai pada akhirnya sukses memudahkan langkah peserta untuk datang, duduk dan mendengarkan materi dari para narasumber.

 

Roberdi yang didaulat langsung membuka acara SNG 2018 menyampaikan terima kasih kepada panitia pelaksana atas kedatangan Gubernur Riau terpilih, Drs H Syamsuar MSi beserta para narasumber lainnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Fompasri Bogor, Syafroni Pranata SSi, mahasiswa pascasarjana Prodi Sain Biologi Tumbuhan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB menyampaikan, sejatinya acara ini didukung penuh pendanaannya oleh Badan Penghubung Provinsi Riau, namun karena terjadinya defisit anggaran, acara urung dilaksanakan.

 

“Semula SNG 2018 akan dilaksanakan di Hotel IZI Kota Bogor, Riau defisit anggaran, semua kegiatan dibatalkan, termasuk SNG 2018, namun, panitia pelaksana tetap kekeh agar SNG 2018 dilaksanakan, acara kita pindahkan ke gedung ini, GMSK,” kata Roni.

 

Roni menambahkan bahwa penggiat sekaligus aktivis lingkungan, “Kami itu punya motto, bersatu di tanah rantau, berkarya untuk Riau, sehingga inilah karya kami, SNG 2018 dengan tema Resolusi Problematika Gambut di Provinsi Riau,” tambahnya.

Tampil sebagai keynote speaker, Syamsuar yang masih menjabat sebagai Bupati Siak menyebut, tanah gambut Riau disebutnya sebagai Rahmat Allah swt yang pantas disyukuri. Hal ini didasarkan atas pemikiran ilmiahnya bahwa gambut memiliki banyak keunggulan yang barangkali tidak dimiliki oleh jenis tanah lainnya. Dengan keunggulan yang dimiliki gambut, Syamsuar berharap ke depannya Riau dapat dijadikan sebagai basis kajian gambut nasional maupun internasional.

Terlepas dari keunggulan spesifik yang dipunyai gambut, hal yang terus menjadi perdebatan publik terkait dengan gambut itu sendiri bersumber sejak adanya perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI), yang memanfaatkan tanah gambut sebagai perluasan wilayah tanam. Namun, Syamsuar sendiri tidak menampik bahwa keberadaan perkebunan kelapa sawit dan HTI dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah.

 

“Cukup besar sumbangannya bagi pembangunan daerah, namun jika dampaknya negatif bagi lingkungan, inilah yang perlu dikaji ulang, bagaimana tatakelola yang jitu, benar-benar teruji baik, sehingga sumbangan untuk pembangunan daerah dapat dinikmati oleh masyarakat, dan dampak negatif penggunaan tanah gambut untuk kedua jenis usaha tersebut juga dapat diminimalkan,” kata Syamsuar.

Selain Gubernur Riau terpilih, Panitia Pelaksana Seminar Sadarman SPt MSc juga menghadirkan Dr Haris Gunawan dari Deputi IV Litbang Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia, Prof Dr Ir Sudirman Yahya MSc, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dan Purwo Subekti ST MT, calon doktor program doktoral Ilmu Keteknikan Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Menurut Haris, permasalahan gambut sampai saat ini masih bersifat krusial, esensial dan sensitif. Hal ini terkait dengan banyaknya kepentingan di dalamnya, misalnya terkait dengan adanya perluasan wilayah perkebunan sawit dan HTI yang sudah merambah wilayah gambut. Ini jrlas tidak elok, namun juga memiliki pembatas jika intensivitas penanganannya ditingkatkan.

 

“Keberadaan perkebunan sawit dan HTI disebut sebagai penyumbang devisa bagi daerah, itu jelas, namun pihak terkait tidak serta memanfaatkan ini, sehingga kurang perhatian dalam hal mengelola gambut itu sendiri,” kata Haris sembari menghimbau pengguna tanah gambut untuk dijadikan lahan perkebunan dan HTI, perlu merawat gambut dengan baik dan benar, jika tidak jelas dampak seperti yang dikemukakan diawal, sulit diminimalkan.


Sementara itu, Prof Sudirman Yahya tampil elegan dengan menyuguhkan hal berbeda dari 2 pembicara sebelumnya.

 

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor ini menyebut bahwa jika terkait dengan resolusi masalah, kata kunci yang perlu dipahami bersama adalah vegetasi apa yang bisa tumbuh dan dapat menghasilkan uang jika ditanam di tanah gambut tentu sangat banyak tanaman yang dapat tumbuh subur sampai akhirnya dipanen. Di antara tanaman dimaksud adalah jagung, kedelai, kacang panjang, ubi kayu, talas, jahe, semangka, lidah buaya, lada perdu dan tanaman lainnya.

 

“Hasil kajian saya dan tim, tanah gambut dapat ditanami tanaman pangan dan jenis tanaman lainnya, hasilnya signifikan meningkat, apalagi jika dilakukan dengan sistem pengolahan tanah yang baik sebelum proses penanaman dilakukan, lalu disertai dengan pemilihan tanaman yang juga sesuai, terutama dilihat dari sistem perakaran tanamannya,” kata Sudirman.

 

Ia menerangkan sesuai analisisnya kasarnya untuk jenis tanaman jahe, dengan modal invetasi Rp 100 000 000 perhektar, petani gambut dapat meraup keuntungan bersih sekitar Rp 100 000 000 perhektar.

 

“Ya, berdasarkan kajian ini, manakah yang lebih menguntungkan, kelapa sawit atau jahe?,” tanya Sudirman kepada peserta seminar seraya menyebutkan bahwa perkebunan kelapa sawit sejatinya bukan passion-nya masyarakat Melayu Riau, hal ini karena jenis tanaman ini memerlukan perhatian khusus, terutama dari perawatan dan pemetikkan buahnya yang dilakukan secara berkelanjutan.

Hal berbeda Purwo Subekti ST MT menyinggung persoalan asap yang berasal dari gambut di Riau. 99% kebakaran di lahan gambut disebabkan oleh faktor kesengajaan. Namun, bukan masalahnya yang harus diperdebatkan, resolusi penanganan kebakaran gambutlah yang harus dipikirkan.

 

Lebih lanjut Dosen di Universitas Pasir Pangaraian ini Riau ini memaparkan terkait kasus kebakaran gambut yang kerap terjadi akan dapat dicegah, sama halnya dengan kebakaran yang terjadi di hutan non gambut.

 

Tindakan pencegahan dimaksud adalah mengaktifkan peran serta masyarakat tempatan, terkait dengan edukasi dan kegiatan nyata yang berhubungan dengan pencegahan kebakaran gambut dimaksud. Selanjutnya, membuat sekat bakar, yakni berupa jurang, kolam, sungai ataupun parit-parit. Namun, jika kebakaran gambut terjadi, maka yang dapat dilakukan masyarkat di sekitar gambut adalah memadamkan api.

 

“Pemdaman api gambut dapat dilakukan dengan 3 metode, yakni 1) Air gambut ditambah dengan FAP, 2) Air gambut ditambah dengan AFFF atau 3) Air gambut tanpa penambahan foaming agent, rata-rata 3%,” kata Purwo.

Seminar Nasional Gambut 2018 dimoderatori Nur Suhada SHut, mahasiswa pascasarjana Prodi Ilmu Pengelolaan Hutan Fakultas Kehutanan IPB merangkum hasil seminar, dengan beberapa simpulan, yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan kembali gambut ke depannya.

 

“benar, di antara kesimpulan tersebut adalah gambut perlu ditatakelola dengan baik dan benar untuk kesejahteraan masyrakat dan kelestarian lingkungan di Provinsi Riau, memperbaiki penataan RTRW Provinsi Riau sekaligus mencanangkan gerakan Rawat Gambut Nasional (RGN), menanami gambut dengan tanaman yang adaftip dengan gambut, serta upaya mengaktifkan peran serta masyarakat untuk mencegah dan memadamkan api gambut,” tutupnya sembari acara seminar diakhir dengan sesi photo bersama Gubernur Riau terpilih dengan panitia pelaksana dan pengurus Fompasri Bogor. (Op)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved