Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Syamsudin Halawa:
Pemdasel Diminta Transparan Penyaluran Bantuan & Anggaran Pembangunan Fisik

Yulianus Halawa
Sabtu, 09 Jan 2021 11:56 WIB | dilihat: 15783 kali
Foto: Kondisi Jalan masyarakat di Wilayah Lingkungan 4 (Huta Tonga) dan Foto Bangunan Jalan Simenisasi di Lingkungan II Menuju Pasir Bidang yang dibangun Tahun anggaran 2016-2017 yang hanya dilewati Kendaraan Roda 2 dan kondisinya saat ini sudah rusak parah karena pembangunannya tidak memakai besi wiremesh untuk menjaga daya kekuatan dan mutu bangunan.

TAPSEL (Ungkapriau.com)- Pelaksaan Pembangunan Simenisasi Jalan di wilayah Lingkungan II, Baturosak menuju Pasir Bidang Tahun Anggaran 2016-2017 silam, terkesan menuai banyak kekecewaan dari masyarakat tempatan.

Pasalnya, bangunan simenisasi yang dialokasikan pemerintahan Kelurahan Sangkunur ini tahun 2016-2017, diduga pengerjaannya tidak sesuai harapan masyarakat (asal jadi) tanpa mengutamakan kuantitas dan mutu kwalitas bangunan. 

Pantauan awak media terkait pembangunan simenisasi di wilayah II ini menuju Pasir Bidang oleh Pemerintahan Kelurahan Sangkunur, Tahun 2016-2017 dan sayangnya, jalan yang hanya dilewati kendaraan roda 2 (Sepeda Motor) tersebut. Kini sudah rusak parah. 

Proyek ini, dinilai proyek siluman Kelurahan Sangkunur karena pelaksanaanya tidak memasang Plang informasi saat pelaksanaan sebagai bentuk transparansi, sehingga sumber dana pembiayaan bangunan ini, dinilai sengaja ditutup-tutupi oleh sang Lurah Sangkunur selaku pelaksana. 

Selain sumber dana anggaran proyek ini tidak transparan dan juga pembangunannya dinilai tidak sesuai speksifikasi, sehingga bangunan yang hanya dilalui kendaraan Roda 2 itu tidak bermutu dan saat ini sudah mengalami rusak parah. 

Anehnya lagi, Pengerjaan bangun Jalan yang merupakan akses warga dalam meningkatkan ekonomi masyarakat di beberapa lingkungan diwilayah itu, sangat mengecewakan. baik masyarakat Pasir Bidang terlebih masyarakat Lingkungan 4 (Huta Tonga).

Mengapa Simenisasi Jalan ini mengecewakan hati masyarakat, karena proyek tersebut dikerjakan tanpa menggunakan besi wiremesh. Padahal, jalan ini, merupakan satu-satunya akses utama masyarakat dalam mengangkut dan menjual hasil bumi mereka dan juga akses anak-anak tingkat SD dan SMP bersekolah. 

Sementara itu, Syamsudin Halawa yang merupakan Tokoh Masyarakat asal Nias yang puluhan tahun berkependudukan sejak Tahun 1980 di Kelurahan Sangkunur. Pihaknya sangat menyayangkan pemerintah daerah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), anak tirikan masyarakat Kelurahan Sangkunur dari sektor pembangunan. 

"Ya, saya selaku masyarakat Kelurahan Sangkur, menilai Pemerintahan Kabupaten Tapsel, tidak memperhatikan kemajuan masyarakat kami, baik dari sektor Ekonomi dan Sumber Daya Manusia," ujar Syamsudin, Sabtu (901/2021). 

Perlu diketahui bahwa selama puluhan tahun masyarakat di wilayah Kelurahan Sangkunur ini, seolah mengalami frustasi yang menyedihkan. Mengapa masyarakat kami mengalami frustasi karena disetiap hari Pekan (pasar) dan seluruh warga yang berbelanja persiapan lauk pauk untuk pembelian bahan pangan sembilan pokok (sembako), harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 8 Kilometer karena akses jalannya tidak dibangun pemerintah. 

Sedihnya lagi, kata Syamsudin Halawa. Berbagai hasil tani masyarakat yang ada di wilayah Kelurahan Sangkunur, tidak akan menjadi rupiah tanpa menjualnya dengan cara memikul sejauh 8 Kilometer ke pasar. Bahkan anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP juga harus menempuh Jalan tersebut berjalan kaki setiap harinya bersekolah. 

Kami atas nama masyarakat Kelurahan Sangkunur, meminta rasa keadilan pemerintah dalam alokasi pembangunan fisik. "Ya, kesedihan dan rasa kezaliman pemerintah Kabupaten Tapsel kepada seluruh masyarakat Angkola Sangkunur dari sektor pembangunan selama puluhan tahun ini. Kami berharap, melalui pemberitaan Media ini, segala persoalan keluhan masyarakat dapat tersampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tapsel, Gubernur Sumut dan kepada Presiden RI," pintanya.

 

Syamsudin H mengatakan. Masyarakatnya, sangat taat membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). bahkan setiap Pemilihan Bupati, Pemilihan Anggota Legislatif, Pemilihan Gubernur maupun Pemilihan Presiden RI. Masyarakat Angkola Sangkunur selalu mendukung dengan mberikan hak pilih. Namun, tiba masalah pembagian kue pembangunan dari pemerintah. Wilayah Kecamatan Angkola Sangkunur khususnya daerah kami di anak tirikan," bebernya. 

Ia berharap. Terpilihnya pasangan H. Dolly Putra Perlindungan Pasaribu S.Pt, M.M yang berpasangan dengan Rasyid Assaf Dongoran,M.Si di Pilkada serentak 9 Desember 2020 lalu, tentunya. Pasangan ini akan menjadi Pemimpin yang amanah, Pemimpin yang merakyat dan Pemimpin yang Visioner tanpa melihat perbedaan ras dan agama masyarakatnya. 

Dolly Putra Perlindungan Pasaribu S.Pt, M.M - Rasyid Assaf Dongoran, M.Si merupakan pasangan ideal bagi masyarakat Kabupaten Tapsel sehingga masyarakat mempercayakan pasangan itu menjadi bapak pembangunan dan Pemimpin yang diharapkan masyarakat membawa perubahan pembangunan daerah menuju masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan Sejahtera. 

"Iya betul, harapan kami dari masyarakat untuk Bupati Tapsel yang baru terpilih pada pesta demokrasi 9 Des 2020 lalu. Benar-benar Bupati dan Wakil Bupati yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat yang selama ini tidak terselesaikan oleh Bupati Tapsel sebelumnya," harapnya. 

Lebih lanjut Tokoh Masyarakat beranak 4 ini meminta Pemerintah Tingkat Kelurahan Sangkunur, Pemerintahan Kecamatan Kec. Angkola Sangkunur dan Pemerintah Kabupaten Tapsel untuk memperhatikan masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan. Selain itu, pemerintah juga diminta transparan dalam penyaluran bantuan bantuan masyarakat dan terlebih masalah anggaran anggaran dana pembiayaan pembangunan fisik di wilayah Keluarahan Sangkunur. Penulis (Yulianus Halawa)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved