Kritik untuk dunia pendidikan pernah diungkapkan oleh seorang ilmuan yaitu Albert Enstein. Enstein mengungkapkan argumentasinya terkait dengan bakat dan minat masing-masing manusia dan memberikan ilustrasi sebagai berikut: “Semua orang adalah jenius, namun jika anda memandang seekor ikan berdasarkan kemampuan memanjat pohon, maka selamanya ikan itu akan merasa bodoh karena tidak bisa memanjatnyaâ€. Hal tersebut menunjukan bahwa manusia memiliki potensi dan bakatnya masing-masing sesuai dengan bagaimana dan dimana manusia tersebut memperoleh pengalaman dan kematangan berfikir. Oleh sebab itu seorang guru harus sadar hal tersebut dan tidak bisa menyamaratakan kemampuan dalam diri murid. Pernyataan tersebut juga serupa dengan yang diungkapkan Mendikbud Muhadjir Effendi pada sebuah pidato pada tahun (2018) yang mengungkapan “anak yang tidak pandai dalam bidang matematika, maka bukan berarti dia tidak memiliki keahlian pada bidang lain, disinilah peran guru agar mampu mengarahkan murid untuk menggali potensi dan bakatnya, karena mereka memiliki keunikan, maka guru janganlah menjadi hakim atas ketidakmampuannya†(Muhadjir Effendi, 2018). Perlu solusi untuk menjawab permasalahan ini. Guru sebagai ujung tombak penerapan pembelajaran kepada murid diharapkan memiliki “Senjata Ampuh†untuk menjawab permasalahan tersebut.
Keberhasilan proses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal seperti kompetensi guru, lingkungan pendidikan, gaya belajar murid, dan masih banyak faktor yang lainnya. Gaya belajar ialah cara individu untuk menyerap dan memproses informasi dengan mudah sesuai dengan kemampuannya. Gaya belajar setiap murid yang beragam yang nantinya harus diakomodasi dengan pembelajaran yang berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction) adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif (Tomlinson:2001). Proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing murid (Heacox:2002).
Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “amongâ€, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi.
Selanjutnya sedang diupayakan adalah dengan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka dimaknai sebagai rancangan belajar yang memberikan kesempatan pada murid untuk belajar dengan santai, tenang, tidak merasa tertekan, gembira tanpa stress dan memperhatikan bakat alami yang dimiliki para murid. Fokus dari pada kurikulum merdeka adalah kebebasan dalam berpikir secara kreatif dan mandiri. Guru sebagai subjek utama yang berperan diharapkan mampu menjadi penggerak untuk mengambil tindakan yang memberikan hal-hal positif kepada peserta didik. Kesimpulan mengenai konsep belajar adalah bentuk tawaran dalam menata ulang sistem pendidikan nasional. Penataan ulang tersebut dalam rangka menyongsong perubahan dan kemajuan bangsa agar dapat menyesuaikan perubahan zaman. Pada Kurikulum Merdeka, satuan pendidikan harus merancang kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan unit pengajaran yang unik. Kurikulum ini menuntut peran guru mengimplementasikan pembelajaran yang berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar. Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif. Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain: 1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll) 2. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar) 3. Mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.
Untuk memenuhi kebutuhan kemampuan murid yang berbeda, diperlukan cara yang beragam. Menurut Atik Siti Maryani (2021) di dalam Aisyah (2019). Setidaknya ada 3 jenis cara, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.Â
Pertama adalah diferensiasi konten memiliki ruang lingkup analisis kesiapan belajar yang mengacu pada materi yang akan diajarkan, guru sebagai fasilisator dapat menjaga minat murid dan memberikan kesempatan bagi murid selama proses pembelajaran sehingga murid dapat terlibat aktif, kemudian peran guru dalam membuat pemetaan kebutuhan belajar murid yang dilandaskan pada indikator profil belajar sehingga dapat memberikan kesempatan bagi murid secara natural dan efisien sesuai dengan metode yang dibutuhkan.
Kedua adalah diferensiasi proses dimana guru dapat menganalisis mengenai pembelajaran yang akan dilakukan murid baik secara mandiri maupun kelompok. Dalam hal ini, guru perlu mempertimbangkan siapa saja yang membutuhkan bantuan dan pertanyaan pemandu dalam melakukan pembelajaran sebelum murid melakukan pembelajaran secara mandiri. Diferensiasi proses meliputi kegiatan berjenjang, menyediakan pertanyaan pemandu, membuat agenda individual, memfasilitasi durasi waktu bagi murid dalam menyelesaikan tugasnya, mengembangkan gaya belajar visual, auditori, maupun kinestetik, dan membuat kelompok sesuai dengan kemampuan dan minat dari masing-masing murid.Â
Ketiga adalah diferensiasi produk, dimana produk yang dimaksud disini adalah output dari pembelajaran yang telah dilakukan seperti karangan, pidato, presentasi, dan lain-lain. diferensiasi produk ini bertujuan agar pemahaman murid dapat lebih luas dan menjadi tantangan kreativitas dan ekspresi dari pembelajaran yang diinginkan murid.pada diferensiasi produk ini, peran guru harus memenuhi ekspektasi murid, diantaranya guru menentukan indikator pekerjaan yang ingin dicapai, produk tersebut harus memuat konten, merencanakan proses pengerjaannya, dan merancang output yang diharapkan dari produk tersebut.***
| Polres Pelalawan Amankan Dua Orang Terduga Pelaku Karhutla | |
| Hj.Darnawati Kawal Anggaran Rp 15 Miliar Untuk Pembangunan Jalan Sanglar Dan Kota Baru | |
| BFI Finance Cabang Air Molek Lempar Tanggung Jawab Ke Kantor Pekanbaru | |
| Mantan Kadiskominfo Inhil Keberatan Pemberitaan Tanpa Memenuhi KEJ | |
| Kondisi Jalan Desa Rantau Bawah Tetap Memprihatinkan | |













