Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Artikel Dari Happy Siregar, M.Pd
Rupiah Jujur, Negeri Makmur

Happy Siregar, M.Pd
Rabu, 29 Okt 2025 06:56 WIB | dilihat: 34968 kali
Foto: Foto Penulis Artikel ini, Happy Siregar, M.Pd

Keuangan negara ibarat darah yang menghidupi seluruh kehidupan bangsa. Dari sinilah pembangunan bergerak, sekolah berdiri, jalan menghubungkan daerah, dan bantuan sosial menjangkau masyarakat. Namun, uang negara bukan sekadar angka di lembar APBN, melainkan amanah rakyat yang menuntut kejujuran. Tanpa integritas, sebesar apa pun pendapatan negara akan menguap di tengah jalan. Karena itu, kejujuran dalam setiap rupiah menjadi dasar kemakmuran bangsa.

Menjaga kejujuran berarti memastikan dana publik tersalurkan tepat sasaran dan tidak diselewengkan. Nilai kejujuran bukan hanya tuntutan moral, tetapi kunci masa depan. Negara yang menegakkan integritas akan tumbuh kuat dan dipercaya rakyatnya. Sebaliknya, jika kebocoran anggaran dibiarkan, kesejahteraan hanya menjadi janji kosong. Setiap penyalahgunaan dana publik, proyek fiktif, dan rekayasa anggaran perlahan mengikis kepercayaan masyarakat. Padahal, kepercayaan adalah fondasi keberlangsungan negara. Tanpa kepercayaan, penerimaan pajak menurun, investasi melemah, dan pembangunan tersendat. Karena itu, integritas fiskal bukan sekadar etika, tetapi kebutuhan mutlak untuk menjaga kepercayaan rakyat.

Jika dicermati, banyak masalah pembangunan bukan karena kekurangan dana, melainkan lemahnya tata kelola. Proyek yang seharusnya selesai setahun bisa molor hingga tiga tahun. Dana bantuan yang mestinya sampai ke masyarakat kecil berhenti di tangan perantara. Semua itu berakar pada hilangnya tanggung jawab dan transparansi. Padahal, anggaran pembangunan nasional tergolong besar. Artinya, persoalan utama bukan pada jumlah uang, tetapi bagaimana uang itu digunakan.

Saat ini pemerintah berupaya memperbaiki tata kelola agar setiap rupiah memberi manfaat nyata, bukan tersesat dalam birokrasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengalihkan Rp 200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke lima bank BUMN (Himbara) untuk menjaga likuiditas dan memperluas pembiayaan sektor riil. Dana itu dibagikan ke Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp 55 triliun, BTN Rp 25 triliun, dan BSI Rp10 triliun (Sumber: Kementerian Keuangan RI, 2025).

Hingga 30 September 2025, penyaluran dana mencapai Rp 112,4 triliun atau 56% dari total. Bank Mandiri mencatat Rp 40,6 triliun (74%), BRI Rp 33,9 triliun (62%), BNI Rp 27,6 triliun (50%), BSI Rp 5,5 triliun (55%), dan BTN Rp 4,8 triliun (19%). Langkah ini memperkuat likuiditas perbankan, menurunkan suku bunga antarbank, dan meningkatkan jumlah uang beredar hingga 13,2% (Sumber: Bank Indonesia; CNBC Indonesia,2025). 

Grafik Realisasi Penyaluran Dana Stimulus Rp200 Triliun (hingga 30 September 2025):

Bank Mandiri ???????????????????? 74%

BRI ???????????????? 62%

BNI ???????????? 50%

BSI ??????? 55%

Kebijakan tersebut membuktikan bahwa keuangan negara bukan sekadar urusan laporan, tetapi instrumen nyata dalam memperkuat ekonomi rakyat. Ketika dana publik disalurkan dengan tepat dan jujur, dampaknya langsung terasa: pelaku usaha kecil mendapat akses kredit, industri kembali berproduksi, dan lapangan kerja terbuka. Menteri Keuangan menegaskan bahwa APBN 2026 akan tetap sehat, dengan fokus pada program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Inilah semangat “Rupiah Jujur, Negeri Makmur.”

Negara maju seperti Jepang dan Singapura tidak tumbuh karena kaya sumber daya alam, melainkan karena mengelola keuangan dengan disiplin dan kejujuran tinggi. Indonesia pun dapat menapaki jalan yang sama jika setiap rupiah dikelola dengan hati bersih dan pikiran jernih. Kejujuran fiskal harus menjadi budaya dalam sistem pemerintahan, bukan sekadar slogan tahunan.

Nilai kejujuran juga perlu ditanamkan sejak dini. Sekolah dan keluarga harus menjadi tempat pertama anak-anak belajar bahwa uang bukan segalanya, tetapi kejujuran adalah segalanya. Jika generasi muda tumbuh dengan kesadaran ini, maka kelak saat menjadi pejabat, pegawai, atau pengusaha akan menolak segala bentuk korupsi dan kecurangan. Pendidikan karakter yang menanamkan integritas harus berjalan seiring dengan pendidikan ekonomi agar lahir generasi yang cerdas dan berakhlak. Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap uang negara. Masih banyak yang mengira dana pemerintah berbeda dengan uang rakyat, padahal setiap rupiah dalam APBN berasal dari pajak, bea, dan retribusi masyarakat. Menyelewengkan uang negara sama artinya mencuri dari rakyat sendiri. Karena itu, pengelolaan keuangan publik harus jujur, efisien, dan berorientasi pada manfaat nyata: pendidikan, lapangan kerja, serta layanan kesehatan. Jika setiap rupiah dikelola dengan kesadaran dan tanggung jawab, kesejahteraan rakyat bukan lagi janji, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan.

Kritik terhadap pengelolaan keuangan negara tidak berarti membenci pemerintah, tetapi bentuk cinta terhadap bangsa. Kritik diperlukan untuk menjaga sistem agar tetap bersih dan transparan. Kita tidak boleh diam saat melihat penyimpangan, sekecil apa pun itu. Negara butuh warga yang berani bersuara, bukan yang bungkam karena takut atau acuh. Kejujuran tidak tumbuh dalam keheningan; ia hidup dalam budaya keterbukaan dan saling mengawasi. Bayangkan jika setiap pejabat, dari pusat hingga daerah, memperlakukan uang negara seperti harta keluarga sendiri—dijaga, digunakan bijak, dan dipertanggungjawabkan secara terbuka. Tak akan ada proyek mangkrak, tak akan muncul skandal besar seperti kasus PT Pertamina (Persero) yang menimbulkan potensi kerugian negara sekitar Rp193,7 triliun terkait impor minyak dan produk kilang periode 2018–2023 (Sumber: UGM News, 2025). Sebab, ketika setiap rupiah dipegang dengan integritas, setiap kebijakan dan pengeluaran akan memberi manfaat nyata bagi rakyat—bukan sekadar laporan rapi tanpa hasil.

Bangsa yang makmur bukanlah bangsa kaya sumber daya, melainkan yang jujur dalam mengelola kekayaannya. Setiap rupiah yang dikelola dengan integritas akan kembali dalam bentuk kesejahteraan rakyat: jalan mulus, sekolah gratis, layanan kesehatan cepat, dan kesempatan kerja luas. Itulah tanda kemakmuran yang lahir dari kejujuran. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Bagi pejabat, jujurlah dalam setiap kebijakan dan laporan keuangan. Bagi pegawai, jujurlah dalam setiap tanggung jawab dan transaksi. Bagi rakyat, jujurlah dalam membayar pajak dan mengawasi penggunaan uang negara. Sebab, kejujuran bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warga negara.

Jika setiap rupiah dibelanjakan dengan niat tulus, tak ada alasan bangsa ini tak bisa maju. Rupiah yang jujur bukan sekadar harapan, melainkan kunci sejati menuju negeri yang makmur.***



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved