Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Diduga Tidak Transparan dan Salah Sasaran.
Bantuan Bibit Karet, Sawit dan Ternak TA 2011-2017 Dipertanyakan

Urc
Jumat, 02 Feb 2018 | dilihat: 1242 kali
Foto: Defid Amriady LSM FAPPAR-RI (kiri) dan Alui Zanolo LSM TRI BHAKTI (kanan).

PELALAWAN, Ungkapriau.com - Sekjen LSM TRIBAKTI Provinsi Riau, Aluizanolo Waruwu menilai program pemerintah Daerah Kabupaten tentang penyaluran bantuan yang berbentuk Bibit Karet, Kelapa Sawit dan bantuan Ternak lain-Nya sejak Tahun Anggaran 2011 s/d 2017 di Kabupaten Pelalawan, di pertanyakan.

Kita menilai komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan sejak di Pimpin Bupati Harris dari tahun 2011 sampai saat ini, sudah cukup baik dalam memperhatikan kesejahtraan masyarakat dengan membuat berbagai program disetiap tahun anggaran APBD maupun APBN.

Bupati Harris membuat program dengan membantu pembagian Bibit Kelapa Sawit dan Bibit Karet serta Pembagian Bibit Ternak Sapi, Kerbau dan ternak lainnya melalui kegiatan Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang kini dirubah menjadi Dinas Perkebunan dan Peternakan kepada masing-masing kelompok tani di daerah itu.

Aneh dan nyata, seluruh program Bupati Harris tentang kegiatan penyaluran bantuan-bantuan Bibit yang dilaksanakan oleh Dinas yang bersangkutan, sampai detik ini tidak menjunjukkan hasil yang baik untuk kesejahtraan masyarakat Kabupaten Pelalawan.

Hal ini diungkapkan Aluizanolo Waruwu sesuai hasil investigasi TIM-nya di wilayah Kabupaten Pelalawan yang semestinya masyarakat di daerah itu tingkat kemiskinan rendah. Namun, yang terjadi dalam kenyataannya, masyarakat Kabupaten Pelalawan minim kesejahtraan-Nya.

Lebih lanjut Alui menyatakan, setidaknya realisasi program Pemerintah tersebut, tentunya di masing-masing desa yang menerima bantuan-bantuan bibit ini sudah terbentuk Koperasi Unit Desa  (KUD).

Benar-Red, jika Bantuan-bantuan bibit ini dikelola dengan baik oleh masing-masing Kelompok Tani di tingkat Desa. Setikanya ada timbal baliknya kepada Pemerintah untuk Pendapat Asli Daerah (PAD) di sektor bagi hasil. Padahal, tujuan Pemerintah membantu penyaluran bibit-bibit ini untuk masyarakat melalui Kelompok Tani agar masyarakat terbantu meningkatkan Ekonomi dan menambahkan PAD bagi Daerah.

Lanjut Sekjen LSM TRIBHAKTI menduga penyaluran berbagai bantuan Bibit tersebut salah sasaran.

"Ya, saya menilai penyaluran bantuan bibit ini salah sasaran karena sampai saat ini tidak ada yang berhasil. Bahkan pengelolaan kebun karet Rakyat Kabupaten Pelalawan tidak menunjukkan hasilnya hingga detik ini," ungkap Alui waruwu.

Ditempat yang sama Koordinator LSM Forum Andalan Pengawasan Pembangunan Auditor Republik Indonesia (FAPPAR-RI) turut menanggapi persoalan penyaluran Bantuan Bibit-bibit di Kabupaten Pelalawan sejak Tahun 2011-2017.

Saya sangat setuju apa yang di sampaikan LSM TRIBHAKTI terkait bantuan Bibit yang disalurkan kepada masing-masing Kelompok Tani oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan.

"Sungguh kita sayangkan Bantuan-bantuan bibit ini tidak satupun yang kita ketahui berhasil," kata Defid Amriady kepada ungkapriau.Com, Jumat (02/2/2018).

Lanjut Amriady, bantuan-bantuan yang di salurkan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan kepada Kelompok Tani sejak tahun 2012 itu tidak satupun menunjukkan hasil yang baik.

Salah satu contoh perogram Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Pelalawan dalam kepemimpinan Ir.

H.T. Mukhtauddin M.Si yang di tetapkan pada tanggal 25 July 2012 yakni penyaluran bantuan Bibit Karet kepada 22 Kelompok Tani dengan total luas areal 800 Hektare untuk 800 Kepala Keluarga (KK). Akan tetapi, program ini tidak satupun diketahui rimbanya.

Ada sejumlah 22 Kelompok Tani di Kabupaten Pelalawan yang menerima bantuan bibit tersebut, yakni Suak Setalam, Sei Kabung, Kuala Indah, Kopau Makmur, Pkl.Panduk Sejahtera, Mulya Subur, Beringin Indah, Segamai Indah, Mitra Bersama, Subur Jaya, Pematang Balung, Segaria Lestari, Panco Bangun Tani, Titian Jangke, Sei Air Hitam, Tandun Indah, Langgam Sepakat, Rantau Bertuah, Sri Kampe, Sri Maju, Tani Maju dan kelompok tani Menghijau Bumi.

Tidak hanya itu, selain bantuan bibit, masih ada sejumlah bantuan lainnya seperti pupuk dan obat-obatan yang sampai saat ini tidak diketahui kejelasan penyalurannya. 

Menurut mereka, bantuan bibit itu hanya di 1 tahun anggaran (tahun 2012) dan masih banyak lagi ditahun anggaran selanjutnya. "Itu masih di tahun anggaran 2012, masih ada lagi ditahun selanjutnya," ucap Alui yang disambung langsung oleh Defid Amriadi (LSM FAPPAR-RI), "tahun-tahun selanjutnya juga tidak diketahui apakah tersalur dengan benar atau tidak," katanya menambahkan ucapan Alui.

Mereka juga membandingkan kelompok tani Kabupaten Pelalawan dengan Kabupaten lainnya. Bagi mereka, Kabupaten lain jauh lebih berhasil.

"Misalnya Kabupaten Kampar. Saat ini Kampar tidak diragukan lagi akan hasil Bawang merah, Cabai, Karet serta Sawit nya," jelas Alui.

Sementara Defid Amriady mengatakan bahwa salah satu Kecamatan di Kab.Kampar cukup berhasil dari segi Tanaman Pangan, "di Kecamatan Lipat Kain, Tanaman Pangan telah berhasil," ujarnya.

Dengan perbandingan itu, kedua aktifis yang bergerak dibidang LSM ini menaruh tanda tanya besar terkait perkembangan kelompok tani di Kabupaten Pelalawan. Mereka menganggap kelompok tani di Kabupaten Pelalawan gagal, walaupun telah menghabiskan dana ratusan milyar rupiah dari APBD Kab.Pelalawan terhitung dari tahun 2011 hingga 2017. Tim

 



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved