Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Pemda Pelalawan Menjalin Kerjasama Dengan BPPT
Kadisnak Pelalawana Kembangkan Integrasi Sapi-sawit Didaerahnya

Redaksi
Kamis, 11 Feb 2016 | dilihat: 1600 kali
Foto: H.T. Mukhtaruddin, kepala dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan.

UNGKAP RIAU, PELALAWAN - Dalam rangka memantapkan program pengembangan Integrasi perkebunan kelapa sawit dengan Ternak Sapi di Daerah Kabupaten Pelalawan. Staf Direktur Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi Produksi Peneliti Pakan Ternak dari Jakarta Pusat, lakukan kerjasama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan.

"Kedatangan Staf Direktur Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi Produksi Peneliti Ternak (BPPT) oleh Dr. Mohammad Nasyir M.Si bersama Ir. Maman selaku tim Peneliti Pakan Ternak Pusat pada hari ini, merupakan bentuk kerjasamanya dengan Pemda Pelalawan dalam memantapkan program pengembangan Integrasi perkebunan kelapa sawit dengan Ternak Sapi," jelas Kepala Dinas Peternakan H.T. Mukhtaruddin kepada UNGKAP RIAU diruangan kerjanya, Rabu (10/2/2016).

Kadisnak Pelalawan menjelaskan bahwa Integrasi ternak sapi dan sawit tersebut, dari tahun 2015 lalu pihaknya telah mulai mengembangkan di daerah Kecamatan Kerumutan Kabupaten Pelalawan.

"Program ini, sudah kita mulai kembangkan dari tahun 2015 lalu. Bahkan pelatihan-pelatihan terhadap tenaga trampil dalam pengelolaan usaha tersebut, telah dilakukan di masing-masing Kecamatan di se-kabupaten Pelalawan," jelasnya.

Mengenai bentuk usahan integrasi perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi yang akan kita kembangkan bersama Badan Pengkajian dan Peneliti Tekhnologi Pusat di daerah Pelalawan ini adalah program pengembangan Integrasi sapi dan sawit yang tujuannya memantapkan potensi dalam mengembangkan produksi serta kesehatan ternak di daerah ini.

Kadisnak menyampaikan bahwa program pengembangan usaha peternakan sapi di perkebunan kelapa sawit ini telah dirintis oleh Fakultas Peternakan sejak tahun 2007 silam di Riau. selanjutnya pada tahun 2012, Fakultas Peternakan UGM sepakat bekerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara V (Persero) dalam pengembangan integrasi sawit- sapi ini.



"Pengalaman dalam keberhasilan Integrasi Sapi-sawit yang diterapkan oleh pihak BPPT kepada kita, maka dengan senang hati kita minta kerjasamannya untuk mengembangkan di daerah Kabupaten Pelalawan," ujarnya.

Apalagi para pelaku perkebunana kelapa sawit di daerah ini sangat tinggi ketergantungannya dalam penggunaan pupuk kimia dalam perkebunan kelapa sawitnya, dengan adanya program integrasi sapi-sawit ini dapat menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 Persen.

Berjalannya nanti program integrasi sapi dan sawit ini, ketergantungan pemakaian pupuk kimia itu bisa turun kerena kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk organik padat maupun cair.

"Dengan kesediaan pihak BPPT bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan dalam mengembangkan usaha Integrasi ternak sapi dan sawit di daerah kita ini, akan tergali ketrampilan para petani, meningkatkan produksi ternaknya dan sendirinya memperbaiki perekonomian masyarakat khususnya di bidang tani ternak," pintanya.

Bilamana usaha integrasi sawit-sapi di kembangkan dangan baik. Pasti dampak positifnya mengurangi biaya produksi pakan ternak bagi pelaku tani ternak di daerah ini.

H.T. Mukhtaruddin "Sesuai penjelasan pihak BPPT selaku tim penelitian bahwa pelepah dan bungkil sawit bisa diolah menjadi pakan ternak, sehingga pengembangan sapi yang diintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit akan menguntungkan bagi pelaku tani ternak. Baik dari kesejahtraan masyarakat, produktivitas sawit, maupun produktivitas sapi," terangnya.

Lanjutnya, apabila integrasi ini dilakukan dengan baik dan berkelanjutan oleh masyarakat, maka daerah itu bukan hanya bisa swasembada daging, tetapi bisa menjadi exportir sapi karena biaya memproduksi pakan sapi untuk pembibitan atau pengembangbiakan kurang dari Rp2 ribu per hari.

Apalagi setiap tahunnya sapi bisa beranak, sehingga biaya bisa menghasilakan satu pedet (Anak sapi) hanya Rp 1,6 juta, sementara di daerah lain biayanya untuk menghasilkan satu ekor pedet butuh 5-6 bahkan mencapai Rp9 juta.

Program ini sangat mendukung pengembangna kawasan teknopolitan Kabupaten Pelalawan dan terlebih-lebih meningkatkan pengetahuan dalam ketrampilan para pelaku tani ternak. bukan hanya itu saja. Yul/Abdul



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved