Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Menggunakan Bahan Material Kayu Bekas Dan Patah.
Pembangunan Los Pasar Di Dusun Mukti Sari Tidak Sesuai Harapan Masyarakat

Abdul
Kamis, 12 Jan 2017 | dilihat: 1542 kali
Foto: Kayu penyangga atap Los Pasar Dusun Mukti Sari, (kiri). Saat Pimred Tabloid Ungkap Riau, Yulianus Halawa (menggunakan kaca mata) mewawancarai Warno (baju merah dengan menggunakan topi) yang merupakan warga Dusun Mukti Sari, (Sudut kanan atas).

SIAK, UNGKAP RIAU - Terkait kegiatan Pembangunan, Pengeloaan Pasar dan Kios Kampung di Dusun Mukti Sari, RT 003/RK 001, Desa Jati Mulya, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak yang berupa Pembangunan Los Pasar tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Berdasarkan hasil pantauan Ungkapriau.com dilapangan terkait kondisi bangunan Los Pasar di Desa Jati Mulya yang baru selesai pembangunannya tahun 2016 lalu,  dinilai tidak sesuai Spek.

Pasalnya, bahan material kayu yang digunakan pada pembangunan Los Pasar tersebut banyak menggunakan kayu bekas yang mana seharusnya tidak layak pakai untuk bangunan baru. Selain kayu bekas, ada juga kayu yang telah mengalami kerusakan pecah dan bahkan patah.

Pembangunan yang bersumber dana dari APBN Tahun Anggaran (TA)  2016 dengan nilai anggaran Rp.147.176.000, ketidak layakan bahan meretial kayunya tidak hanya dari pecah dan patah, akan tetapi ada juga kayu yang telah berlubang.

Bahan meterial kayu yang digunakanpun hampir keseluruhan berukuran kecil. Dengan kondisi bahan material kayu yang digunakan untuk penyangga atapnya diragukan ketahanannya apabila terjadi hujan badai atau angin kencang.

Menurut salah seorang warga Dusun Mukti Sari bernama Warno (46) saat diwawancarai wartawan yang kebetulan berada di Los Pasar ketika itu menyampaikan bahwa bangunan tersebut tidak bisa dikatakan selesai, "belum bisa dibilang selesai ini pak. Lampunya aja ngak ada dipasang, plafonnya juga ngak ada, bagaimana dibilang selesai", ungkapnya, Sabtu (07/01/2016).

Ia mengaku bahwa Los Pasar tersebut telah dipergunakan untuk aktifitas pasar sebanyak 2 kali, "udah dipakai ini pak, udah dua kali, tapi kondisinya masih seperti ini, belum diselesaikan", akunya.

Warno, "daerah ini daratan tinggi, kalau kayu-kayu penyangga atapnya berbentuk seperti ini dan ditambah lagi tidak adanya plafon, bisa-bisa ambruk diterjang angin kencang atapnya pak", jelasnya.

Pria berumur 46 tahun itu juga sangat menyayangkan hasil pembangunan tersebut, "sayang kali pembangunan ini pak. Kami orang kampung juga harapannya mendapat fasilitas yang baik dan berkualitas dari pemerintah", ucapnya.

"Memang kami tidak terlalu menyalahkan pemerintah pak, yang kerja kan kontraktor, tapi seharusnya pangawas dari pemerintah bisa mengawasi dengan ketat pada saat proses kegiatan pembangunan berjalan", tambahnya di akhir konfirmasi wartawan. (Abdul)



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2013 PT. Ungkap Riau Media
All right reserved