PELALAWAN. ungkapriau.Com- Program Pemerintah pusat dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) di Kabupaten Pelalawan melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) di Desa Delik Kecamatan Pelalawan-Riau tahun anggaran 2017, diduga di Korupsi.
Pasalnya, kurang lebih 400 juta dana untuk pembiayaan pembuatan Bloking Kanal ini di Desa Delik tahun Anggaran 2017 lalu, sebagian besar dibagi-bagi Kelompok Batin Junjung dan turut menerima Kepala Desa.
Penyelewengan bantuan BRG ini disampaikan sejumlah narasumber yang tidak bersedia identitas nya di sebutkan kepada ungkapriau.Com belum lama ini di Pkl Kerinci, Pelalawan-Riau.
Pembuatan Bloking Kanal itu suatu upaya pemerintah dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karlahut), mengingat bencana asap sebelumnya menjadi kasus nasional dan ditambah dengan cuaca panas dan atau kemarau yang tidak bisa diprediksi akan terjadi bencana asap.
Presiden Joko Widodo melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) membuat suatu antisipasi dengan bloking kanal yang pembiayaannya dari dana APBN 2017 sebagai upaya preventif pencegahan karlahut. Namun disayangkan tidak transparan.
Kami menilai penggunaan dana itu tidak transparan. Sampai sekarang masyarakat tidak mengetahui secara pasti besar nilai bantuan yang disalurkan BRG itu. Informasi dana bantuan itu mencapai 400.000.000 juta lebih kurang dan di bagi dua. Untuk pembuatan Booking Kanal dan pengadaan revitalisasi ternak sapi.
"Ya, untuk pembuatan bloking kanal itu sudah terlaksana sebanyak 16 titik dengan upah 8.000.000 per titik. Tapi, yang membuat kami kecewa terkait hal itu tidak ada keterbukaan alias transparan kepada masyarakat Desa Delik," kesalnya.
Kemudian pembelian ternak sapi untuk kelompok juga sudah terlaksana. Tapi, juga tidak ada keterbukaan. Kami tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Apakah Kepala Desa atau kelompomnya.
"Benar, Dana yang sebesar 400 juta kurang lebih itu dianggarkan untuk pembuatan Bloking Kanal serta pengadaan ternak sapi," beber sejumlah Narasumber yang mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa untuk pembuatan bloking kanal dan pembelian sapinya. Setahu kami, pembelian ternak sapi itu seharga 7.000.000 per ekor sebanyak 10 ekor. Itupun tidak dakukan masyawarah terlebih dahulu melainkan hanya musyawarah kelompok saja.
Memang harga ternak sapi itu berfariasi hargannya. "Ya, jikapun ternak sapi itu lebih dari nilai 7 juta. Maka anggota kelompok yang menambahi dananya sesuai komitmen," ungkap sejumlah masyarakat Desa Delik ini.
Kemudian untuk biaya bloking kanal seharga Rp.8.000.000 pertitik dengan sebanyak 16 titik. Padahal, informasi upah bloking kanal itu sebesar Rp.12.000.000 pertitik. Untuk pebih akuratnya informasi ini konfirmasi kepada kepala Desa Delik H.Rahman Hakim dan juga kelompok yang mengelola dana bantuan BRG itu. Sebab secara pasti pembelian ternak sapi dan untuk biaya bloking kanal itu, kami tidak tahu pasti karena tidak adanya keterbukaan.
Jelas-lah (Red) kami merasa dirugikan dan meminta pihak Kejaksaan dan Polres Pelalawan untuk memanggil Kades Delik dan sejumlah kelompok yang terlibat.
Kepala Desa Delik H.Rahman Hakim SE di Kantor Desa Delik saat di kofirmasikan ungkapriau.com terkait dugaan penyimpangan dana program Presiden Jokowi di Desa Delik, Rabu (11/4/2018). Dia mengaku ada bantuan dana pembuatan bloking kanal di Desa Delik dan juga pengadaan Ternak Sapi tahun 2017.
"Benar, di Desa Delik, ada bantuan pemerintah pusat dari sumber APBN tahun 2017 yang disalurkan melalui Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai upaya pencegah terjadinya karlahut," jelas Rahman.
Dijelaskan Kades, dana bantuan untuk pembuatan bloking kanal itu langsung di rekening kelompok dan bukan melalui rekening Desa.
"Saya hanya sebatas mengetahui adanya kegiatan itu dan pelaksananya adalah Kelompok Batin Junjung. Untuk pengadaan Ternak Sapi juga kelompok Delik Sejahtra," kata Rahman.
Dijelaskannya lagi, Sapi yang dibeli dalam bantuan BRG itu sebanya 12 Ekor dan langsung melalui kelompok itu sendiri.
"Jumlah besar dananya dalam pembiayaan pembuatan bloking kanal dan pengadaan ternak sapi itu, saya kurang jelas karena pencairannya, bukan melalui Rekening Desa melainkan Rekening Kelompok," jelasnya Kades.
Disinggung wartawan mengenai bagi-bagi dana yang diiformasikan masyarajat. Kades Rahman mengaku ada terima sedikit bagian dari kelompok. Tapi, tidak sebesar yang disampaikan masyarakat Desa Delik kepada rekan-rekan.
"Ya, saya memang ada menerima dari pihak Kelompok Batin Junjung. Tapi tidak sebesar yang dituduhkan sebesar Rp.4.000.
Sekretaris Kelompok Batin Junjung Sabarudin saat dimintai keterangannya terkait bagi-bagi sisa dana pembuatan Bloking Kanal dari bantuan BRG tahun 2017. Dia mengakui sisa dana itu sudah di bagi-bagi kepada 15 anggota Kelompok Batin Junjung sebesar Rp.1.000.000 per orang dengan jumlah total 15.000.000.
Ditanyak jumlah besar dana yang disalurkan Pemerintah Pusat untuk bantuan pencegah karlahut (BRG) di Desa Delik. Sabarudin mengaku tidak tahu "saya tidak tahu berapa secara keseluruhan karena yang tahu nilainya adalah Ketua Kelompok Batin Junjung," katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Delik Sejahtra, Uyat dalam konfirmasi media ini, Selasa (10/4/2018) melalui kontak personnya, membenarkan ada bantuan Badan Restorasi Gambut senilai Rp.198.000.000 yang diarahkan untuk pengadaan Ternak Sapi kepada kelompoknya.
"Benar, dana itu sudah diarahkan untuk pembelian ternak sapi sebanyak 10 Ekor," jelasnya.
Harga sapi itu per-ekornya, berfariasi, ada yang 10 juta. Harga Sapi yang sudah beranak mencapai Rp.12.000.000 juta dan untuk Sapi Jantan Rp.18.000.000 x2 ekor. "Sapi itu sudah dibagi-bagi kepada 20 orang anggota kelompok," jelasnya.
Ketua Kelompok Delik Sejahtera mengaku sisa dana pembelian sapi itu masih ditangan bendahara kelompok (Pendi).
"Iya, Pak. Sisa dana itu masih ditangan bendahara dan informasi dana itu sudah habis ketika saya tanyakan kepada Eka Wahyudi," tutup Uyat.
Hal berbeda lagi penjelasan salah seorang Anggota Kelompok Delik Sejahtra, Misdar kepada ungkapriau.com melalui kontak personya 10 April 2018 mengatakan. Dana pengadaan ternak sapi itu dari Badan Restorasi Gambut (BRG) sebesar Rp.200.000.000 kurang.
Sudah, pak. Sapi itu sudah kami terima sebanyak 10 ekor dan telah dibagi-bagi kepada 20 orang anggota kelompok dengan harga sebesar Rp.7.000.000 rata-rata per-ekor.
Menurut Misdar, "Jika misalnya harga sapi itu melebihi harga dalam bajet. Anggota kelompok sendiri yang menambahi tanpa mengurangi dana dari bantuan BRG itu," bebernya.
Hal berbeda lagi penjelasan Sekretaris Kelompok Delik Sejahtera Eka Wahyudi yang didampingi Pendi belum lama ini di Pkl Kerinci.
Menurut Eka Wahyudi, dana dari bantuan Badan Restorasi Gambut (BRG) tahun 2017 untuk pembelian sapi itu hanya sebesar Rp.130.000.000 juta.
"Dana sebesar itu sudah dibelikan sapi sebanyak 12 Ekor, betina 10 ekor dan jantan 2 ekor. Jika masyarakat menuding kami telah menyelewengkan dana itu, tidak benar," bantahnya saat dikonfirmasi.
Sekretaris kelompok Delik Sejahtra ini mengaku kecewa dengan tuduhan masyarakat itu. Sebab, Anggaran untuk pengadaan ternak sapi itu hanya sebesar Rp.130.000.000 dan bukan seperti informasi yang bapak-bapak terima dari oknum masyarakat kami itu," bantah Eka.
Sementara itu juga Pendi menambahkan "Nilai anggaran untuk pembelian ternak sapi itu hanya sebesar Rp.130.000.000 dan bukan 200.000.000. Ini saya sampaikan sesuai penjelasan dari Eka Wahyudi," jelasnya. TIM
| DPRD Pelalawan: APBD Prioritas Pembangunan Kesejahteraan Dan Penguatan Ekonomi Daerah | |
| Kelurahan Teluk Meranti Buka Pusat Bantuan Untuk Korban Banjir di 3 Provinsi | |
| Keluarga besar Leo Oscar M Laia Meminta Polres Pelalawan Tetapkan Status Pelaku Pembunuhan | |
| Kades Rahnus Klarifikasi Statement Viralnya di Sejumlah Media | |
| 3 Pelaku Pencurian dan Pemerasan Berhasil Diamankan Polsek Pangkalan Kerinci | |
| Polres Pelalawan Amankan Dua Orang Terduga Pelaku Karhutla | |
| Hj.Darnawati Kawal Anggaran Rp 15 Miliar Untuk Pembangunan Jalan Sanglar Dan Kota Baru | |
| BFI Finance Cabang Air Molek Lempar Tanggung Jawab Ke Kantor Pekanbaru | |
| Mantan Kadiskominfo Inhil Keberatan Pemberitaan Tanpa Memenuhi KEJ | |
| Kondisi Jalan Desa Rantau Bawah Tetap Memprihatinkan | |















